#60

11:19

Mari berbicara soal "suatu ketika". Berbincang tentang sebuah keadaan yang belum pernah kita alami atau malah sama sakali tak terbayangkan. Sebab, mungkin dari sana kita bakal tahu, sejauh mana kita ini sebenarnya sudah melangkah.

Menurutku, membangun imaji tentang keadaan dimana kita berada di jaman "suatu ketika" bisa menjadi semacam bumbu asin di tengah sayuran kesukaan. Singkatnya, tidak berimajinasi mengenai hal itu sama saja membuat hidup tidak bisa serta merta menjadi enjoy aja.

Jujur, aku kerap berpikir "suatu ketika". Tentang suatu ketika bila aku menghadapi orang yang tak aku sukai. Tentang suatu ketika dimana aku dipilih rakyat menjadi Bupati Purbalingga. Tentang suatu ketika dimana aku membangun keluarga. Tentang suatu ketika aku sudah sangat uzur. Dan tentang "suatu ketika" yang lain.

Dari hasil berimajinasi sporadis itu, memang ada bayangan indah menanti bila aku melakukan sesuatu dan menjadi sesuatu di suatu ketika. Misalnya, saat aku menjadi Bupati di Kota Perwira, aku akan sangat dipandang orang-orang. Saat aku membangun keluarga, akan ada anak dan istri yang menyenangkan, tentu.

Namun, saat membayangkan masa tak jelas itu, juga akan terlintas tentang kondisi dimana sesuatu akan sulit terlewati dan membuat buliran air mata kian deras membasahi. Bila aku tua dan menjelang mati, aku berpikir apakah surga atau neraka yang bakal jadi hunian selanjutnya. Dan apakah akan ada yang masih ingat aku.

Walau begitu, cerita-cerita konyol atau serius tentang "suatu ketika" jelas tetap harus dilakukan. Terlebih, bila kita bisa mengambil sesuatu yang disebut hikmah. Siapa tahu, imajinasi wagu yang kita buat bisa mewujud layaknya panen gadget di milenium 21 ini. Siapa tahu.

You Might Also Like

4 komentar

  1. ciyee yang udah mikirin nikah. tapi bagus tuh inget surga-neraka. hehe..

    BalasHapus
  2. Aku sudah lama berpikir, mbak alfy...

    BalasHapus
  3. Aku mesti bilang double wow, seorang Pria apatis, skeptis dan kritis bisa berpikir seperti itu.
    Cemangaddddddddddd!! OT.

    BalasHapus
  4. Pria apathis, skeptis dan kritis. Sungguh deskripsi yang indah. hahaha...

    BalasHapus