#62

11:54

Secara resmi, Senin ini ialah hari pertama aku cuti. Setelah dua tahun bekerja, akhirnya mendapatkan hak untuk "berlibur" dari pekerjaan selama empat hari. Sekalipun tak sepanjang yang lain, yakni sepekan, tak soal. Toh, itu sudah lebih dari cukup. Buatku.

Namun, ternyata melalui masa cuti tak mudah. Terlebih tidak terencana. Harus aku akui itu. Hari pertama, seluruh ide lenyap. Gagasan brilian untuk ke Yogyakarta membedah konsep one day tour di Kota Gudeg kandas sudah. 

Senin siang yang seharusnya sudah berplesiran, mengamati cara  meningkatkan nilai jual desa-desa kecil dengan sejuta pesona di mata wisatawan, justru berubah menjadi proses memberesi isi rumah. Aku masih membantu mengepel kamar lantaran air mesin cuci malah membludak.

Aku plesiran itu hendak belajar soal pariwisata di DIY. Hal itu sangat aku butuhkan karena aku juga bercita-cita untuk merancang konsep wisata di daerah utara Purbalingga. Di daerah sana, menurutku, banyak potensi wisata yang alamak luar biasa. Hanya, kurang teralur dan terpublikasikan dengan optimal.

Ada desa batik. Ada berbagai curug. Ada makanan khas. Ada panorama lukisan alam. Ada keasrian. Ada keramahan. Ada keejukan. Ada keramahan. Ada kesenian tradisional. Intinya, ada segala sesuatu yang memang dubutuhkan sebagai magnet bagi wisatawan.

Tapi apa lacur. Semua kandas sudah rencananya. Ya sudahlah. Lain kali mungkin ada yang lebih menarik.

Hm, sebenarnya, ide plesir ke tanah pertiwi Sang Sultan sudah dirukir menjadi plesiran ke pantai. Niatnya, sekalian hunting foto. Namun, rencana itupun batal. Berencna tiga orang, satu orang merasa tak enak badan lantaran terlampau lelah futsalan Minggu sore.

Namun, di atas itu semua, aku menjadi sadar. Terutama saat cuti semacam ini dan aku cuma luntang-lantung tak jelas tujuan. Malah, saking bingungnya, aku melakukan hal-hal yang serupa saat aku masih kerja. Jika begini, sudah tentu tak beda antara cuti atau bekerja terus kan.

Ini artinya, aku memang terjebak dalam rutinitas. Begitu kesimpulan yang aku ambil sendiri dan dibisikan dalam hati. Aku bingung karena selama ini hanya berkutat pada hal-hal yang berbau pekerjaan. Mulai dari begini dan berakhir begitu. 

Wah, kalau begini, aku benar-benar harus melakukan hal-hal yang di luar nalar zona nyaman nih. Setidaknya, pikirku sendiri, biar aku tak mati di makan cacing.

You Might Also Like

0 komentar