Malam Jingga di Rongga Hati

12:45

Lampu bulat berkekuatan 10 Watt masih menggantung di tengah kamar. Sinar jingga yang ditebarkannya masih menghiasi seluruh pojok kamar. Hanya sela yang tertutup yang gelap. Seolah, lampu usang itu berupaya menyaingi kegagahan mentari.

"Aku akan mengingatmu seperti benih mengingat gandum dan seperti seorang gembala mengingat padang rumput dan sungai indah." Tulisan bertinta biru dan penuh kerlip bling-bling itu dibacanya. Untaian kata penuh rasa itu dibacanya berulang-ulang dari diary.

Namun, ia tak memahami apa makna yang ditulis perempuan berkerudung itu di bukunya. "Ah, aku nggak paham," kata pria itu sambil membalikan badan. Sembari ia menata kepala di atas bantal, matanya menerawang namun tak berani menebak makna.

Perempuan manis sebahu itu sudah dekat dengannya sedari beberapa bulan lalu, walau ia mengenalnya sudah sedari berbulan lampau. "Ini bodohnya aku. Andai saja, aku bisa membaca petunjuk Tuhan yang ada di senyummu... Iya, aku tak sabar".

***

"Nanti hati kita akan menyatu". "Kalau dua hati menyatu ya nggak bakal bisa yah". "Oh iya, kamu sudah punya pacar sih yah. Jadi hatimu cuma buat dia. Oke oke". "Eh, bukan begitu maksudnya....".

[16/11/2012]

You Might Also Like

0 komentar