#9

22:06

Aku lelah hari ini. Aku nggak yakin kenapa hari ini terasa sangat mudah cape. Mungkin lantaran terlalu banyak hal yang datang menghampiri secara bersamaan. Ini satu-satunya alasan yang bisa aku munculkan.

Hm, hari ini aku sms-an dengan ibuku. Sebenernya sih nggak lama aku sms-an sama ibu tercinta. Dan jujur aja, ini hal yang jarang yang aku lakuin. Jadi yah gitu, rasa aneh sekaligus senang.

Kami berbincang soal adikku yang hendak masuk SMA. Dia mendaftar di dua sekolahan. SMA 1 Bobotsari dan SMKN 1 Purbalingga. Yang satu deket, sementara yang lainnya, lumayan jauh. Satrio, adikku itu, emang ngebet banget masuk SMA Bobotsari. Sementara NEMnya, cuma 29-an. Dan ini titik pangkal persoalannya. Dan nggak tau kenapa, ogah bener kalo di suruh ndaftar ke SMA 1 Karangreja

SMA Karangreja sebenernya terbilang deket dibanding SMKN 1 Purbalingga. Selain itu, di Karang reja, banyak guru yang keluargaku kenal. Termasuk seorang teman sepermainanku, yang kebetulan masih saudara.

Tapi, Satrio masih aja enggan. Kalo dibilang jauh, kenapa dia mau kalo sekolah di SMKN 1. Untung aja, buat sementara ini, ibu masih menyetujui.

Aku sendiri, merasa bangga dengan adik cowo yang satu itu. Dan semua adik dan kakakku, tentu.

Dulu, aku musti datang ke Kantor BK, lantaran Satrio jarang masuk sekolah. Padahal dari rumah pamitnya buat sekolah. Sempat aku marah saat itu. Tapi, pas nyampe sekolahan, aku malah pake 'nada tinggi' pas ngbrol sama pak gurunya.

"Setiap anak punya cara perkembangan masing-masing. Jangan samakan adik saya dengan orang lain dong," itu kata-kata yang aku lontarin. Ah, marah betul aku waktu itu.

Tapi, aku sekarang bangga dengan dia. Dia lulus, meski dengan nilai pas-pasan. Soalnya, aku bukan meliat dari pencapaian nilainya, tapi dari usahanya buat memperbaiki diri.

Aku nggak pengin mempersoalkan dia sekolah dimana. Yang terlintas dipikiranku, aku cuma pengin ngeliat Satrio bisa sekolah dengan "ringan" dan tenang. Aku pengen ngeliat potensi yang selama ini terkubur dalam dirinya.

Sempat beberapa lama, ibu nggak lagi. Mungkin lagi sibuk. Tapi, kemudian sms lagi.

Ibu bilang kalo satrio tetap enggan ndaftar di Karangreja. Sampai teriak-teriak, kata ibu. Lalu ibu bilang "Aku kepengin kaya mas bangkit", cerita ibu menirukan kata-kata satrio yang sambil teriak itu.

"De, kamu ada yang mengidolakan," ledek ibu.

Jujur aja, aku malu. Ah, sial.

30-06-2010

You Might Also Like

0 komentar