Surat Untuk Marlina

20:54

hi imoet...

mungkin kamu bakalan kaget saat surat ini benar-benar udah ada di tanganmu. surat yang mungkin nggak bakalan pernah diharapin kamu sepanjang hidupmu. mungkin lantaran aku yang membikin surat ini. mungkin juga karena ini adalah surat. sebuah lembaran-lembaran yang sekarang udah nggak jamannya lagi.

aku pun ragu saat menuliskan surat ini. mungkin lebih tepatnya lagi takut. yah, takut, nanti, setelah benar-benar surat ini udah kamu baca, sikapmu bakalan berubah padaku. tapi, aku memilih memberanikan diri. aku lebih ingin menjadi 'binatang jalang', meski nanti terluka akan tetap menerjang.

maka itu, aku meminta sedikit waktumu untuk membaca surat ini. walau bahasanya tak seromantis apa yang terlintas di benakmu. apalagi mendayu-dayu.

marlina. apakah kamu tahu kabar macam apa yang aku dengar tentangmu? kata mereka kamu telah berubah. kamu udah jadi sesosok marlina yang berbeda. bukan ragamu. tapi, sikap yang kamu tunjukan. kata mereka kamu udah begitu terbuka, begitu romantis, dan begitu-begitu yang lainnya. mulanya, aku nggak percaya. dan yang lebih penting lagi, aku nggak tau apa perubahan yang kamu alami itu benar-benar baik untukmu.

aku terperangah. jujur saja. perasaan nggak karuan itu, aku rasain pas aku liat wall fesbukmu. yang mereka katakan ternyata benar. puisi-puisi cinta bertebaran di mana-mana. di status. di catatan pula. di kebingungan yang begitu cepat menderaku itu, aku tau kalau kamu ternyata udah menerima cinta dari hati seorang pria.

tampaknya, pria itu begitu luar biasa. puisi-puisi indah dan kata-kata rayuan pun banyak tercipta untukmu. entah itu gombal, alay, lebay, atau justru dari dalam hati. entahlah. mungkin begitu caranya untuk mengumbar rasa cintanya. sebuah perasaan yang yang terus meledak-ledak dalam hatinya. layaknya seorang yang baru pernah menemukan cintanya. maka itu pula, aku nggak mau menilai perihal apa yang dia lakukan untukmu. toh, aku juga seorang pria.

tapi, yang aku sayangkan. kenapa kamu nggak pernah cerita soal hubungan kalian itu. huft....

saat melihat foto profilmu, aku ingat dengan pacarku semasa SMA, dulu. beberapa waktu lalu, di curhat soal pacarnya. katanya, pacarnya sungguh posesif. dan belakangan pacarnya itu ma\lah mengabaikannya. dan dia hendak bertanya apakah lebih baik putus saja? tentu aku nggak komentar banyak. soalnya, itu hidupnya, cintanya. dan aku bikan dewa cinta.

ah, udah lah. aku tau kamu nggak pernah mau aku bandingkan dengan pacarku semasa SMA, dulu. nggak soal cara berpikir. nggak juga soal kecantikan.

namun, kali ini, nampaknya ada kesamaan diantara kalian berdua. kalian berubah setelah mengenal pria yang kalian damba-damba kala menjelang ke peraduan. yang namanya selalu menghiasi kotak masuk hape kamu dan dia. betul-betul mirip.

tapi, marlina. taukah kamu, aku pun mulai was-was. apakah akhirnya, nasib cintamu akan sama dengannya? aku nggak berani membayangkannya. sungguh.

marlina. tentu kamu ingat (dan kuharap ingat) saat kita duduk di bawah pohon itu. pohon yang di depannya hanya ada hamparan rumput yang bergoyang kecil saat didera angin sepoy-sepoy. nggak semirip tanah lapang milik doraemon. nggak juga seteduh ladang ilalang layaknya setting di film seven pounds.

kita duduk di sana. aku bercerita tentang hidupku. dan kau bercerita soal sisi lain hidupmu. sisi lain yang nggak pernah kamu tampakkan sebelumnya. bercerita tentang beban yang selama ini kamu pendam dalam-dalam dengan canda tawa.

kamu menangis di bawah rindangnya pohon itu. aku hanya terdiam. aku bingung. nggak tau harus gimana. namun, ada satu hal yang pasti, ada semacam janji kecil di benak ini. aku nggak bakal melihat air itu mengalir lagi dari sudut matamu. untuk yang kedua kali. atau yang keselanjutnya.

pun begitu soal cintamu. semoga masa bulan madumu nggak cuma berumur bulanan aja. terlepas dari baik atau tidaknya pria itu untukmu. sebab seperti yang aku bilang, aku juga seorang pria.

marlina. sebenarnya aku enggan mengakhiri surat ini dengan sebuah diktean soal hidup, soal urusan cintamu. maka itu jangan anggap aku sedang mengguruimu. anggap aja ini sebagai sebuah harapan kecil, yang mungkin belum tentu terkabul.

marlina. akan terasa menyesal sekali kalau ternyata lembaran surat ini justru menyakiti hibunganmu dengan pria itu. sungguh, aku nggak pernah bermaksud begitu. dan aku pun tau kamu nggak bakal menanggapi surat ini secara berlebihan. apalagi negatif sifatnya. bukankah kita udah sama-sama dewasa.

marlina, temanku. betapa berat aku mengakhiri surat ini. beratnya setara dengan saat aku menyapamu dengan kata "hi imoet...". sungguh berat.

marlina. terima kasih udah meluangkan sedikit waktumu untuk membaca surat ini. nggak perlu kamu balas surat ini dengan surat yang lainnya. cukup bantu aku dengan mewujudkan janki kecilku itu. dan, seandainya, janji kecilku nggak terwujud. aku pun masih selalu jadi temanmu. tentu begitu kan?

terima kasih marlina. salam hangat untuk hatimu.


.Tanpo Aran.
salam.

You Might Also Like

0 komentar