![]() |
| Buku telah lama didaulat menjadi jendela dunia. Sementara sekarang dunia sudah tak berbatas. |
Ada buku berwarna merah jambu di rumah. Itu buku lawas, tebal, terjemahan dan juga jarang dibaca bahkan tidak ada yang membacanya. Dari beberapa tahun ini, ia ada di bawah kolong meja. Buku itu adalah buku tentang motivasi hidup.
Isi cerita di buku itu tergolong mudah dipahami, meski tata bahasanya khas terjemahan banget. Mungkin karena ada banyak contoh dalam setiap ceritanya. Setiap bab berisi cerita-cerita yang berdasarkan pengalaman si penulis.
![]() |
| Sore yang baik disapa dengan baik. Jangan lelah untuk berpikir positif. Photo by Stoksnap.oi |
Tak ada yang membicarakannya. Sepertinya dunia ini sedang sibuk dengan urusan-urusannya sendiri. Urusan yang tampak sibuk itu mungkin memang tak ada hubungannya dengan kabel yang mengular dan menggantung itu.
Sering kali melihat hal-hal yang tidak disuka
Ketidaksukaan itu acap lahir dari sekali pandang
Tanpa kenal, tanpa ingin kenal
Tidak suka begitu saja
Kadang menyesalinya, kadang mensyukurinya
![]() |
| Pemerintah Kabupaten merilus "Purbalingga Sehati", sebagian masyarakat kukuh saja untuk jadi "Purbalingga Perwira" |
Niat hati Bupati Purbalingga untuk membikin semangat jajaran birokrat dan warga berkibar melalui slogan Purbalingga Sehati bertepuk sebelah tangan. Banyak anggota masyarakat malah tak sehati dengan Perbup No 66 Tahun 2017 itu.
Dalam hitungan menit dari 17 pukulan gong di pukul 17.17, tanggal 17 Juli 2017, tagar #SavePurbalinggaPerwira, #SavePerwira hingga #TolakSehati membanjiri linimasa di berbagai platform media online milik warga Purbalingga.
Untuk melihat detail semaraknya polemik ini di media sosial, sila search Purbalingga Sehati di mesin pencarian. Maka di sana akan terpapar banyak status, video bahkan meme yang menyuarakan pendapat warga Purbalingga.
![]() |
| Takiran serupa dengan berkat yang diterima selepas ngaji bersama di rumah Si Empunya Hajat. Simbol silaturahmi dan keguyuban. (Foto sumber dari dokumen pribadi). |
Yang kami tunggu bukan pejabat. Sebab, ngaji tahlil malam itu nggak mengundang pejabat level desa, kecamatan ataupun kabupaten. Bahkan, Pak RT saja berhalangan hadir. Kami melingkar untuk tahlil mitoni sederhana.
![]() |
| Setiap pohon punya kisahnya masing-masing, tapi terkadang punya akhir yang sama; tumbang Photo by stocksnap.io |
Hijaumu menaungi setapak demi setapak
Hijaumu mewujud belantara kaum serangga
Hijaumu menjadi rumah hantu-hantu menggantung
Pohon pohon pohon
Pernah menjadi berhala lekat kemenyan
Sekalipun tak pernah mampu mengunyah sesembahan
Menjadi keramat tapi selalu mengucap dzikir
| Dunia pendidikan di Purbalingga biasa dibahas. Baik untuk komoditas berita ataupun proyek Foto dokumentasi pribadi. |
Membahas pendidikan itu levelnya "penting dan perlu". Alasannya sangat banyak, tentu. Salah satunya karena pengeruk pundi-pundi keluarga adalah pendidikan, selain juga belanja harian, cicilan leasing dan berbagai tanggungan lainnya.
Kali ini, saya ingin berbicara soal Wajah Pendidikan di Purbalingga, di masa kini. Seperti apa ya rupanya?
![]() |
| Warga Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu selepas mengikuti Subuh Berjamaah bareng Pemkab Purbalingga. |
Ringtone alarm dari dua hape berbeda merek, berbunyi. Suaranya pelan, mungkin karena dalam kondisi ngantuk, jadi kesadaran indrawi juga belum berada di ambang batas normal. Waktu itu, Kamis 29 Maret 2017, sekitar pukul 01.00 lebih.
Dini hari itu, saya baru pulang ke rumah sekitar pukul 23.30. Habis nonton Layar Tanjleb dalam rangka Hari Perfilman Nasional 2017 di Alun-alun. Plus habis diskusi Majapura Murub 2017 di pinggir jalan, seraya ngopi.
![]() |
| Banyak cerita yang berseliweran, salah satunya adalah kisah penculikan anak. Photo by picography.co |
Sudah beberapa hari ini, ada cerita soal penculikan anak. Si adik ini lantas tanggap dan pergi dari pinggir jalan. Waspada. Dan ternyata, mobil itu menguntit di belakangnya. Sudah pasti, dia jadi takut. Mobil itu baru mau bergenti menguntit saat, dia masuk ke gang untuk bersembunyi di rumah teman.
![]() |
| Berhati-hatilah di jalan raya, karena kita tak tahu akan berpapasan dengan siapa. Photo by Pexels.com |
Cerita-cerita itu intinya membicarakan tentang kemampuan kaum puan dalam berkendara yang melampaui makna rambu bahkan logika umumnya. Di sana digambarkan seolah perempuan punya logika sendiri dalam berkendara.
![]() |
| Identitas paling mudah dari anak muda adalah asyik. Photo by pexel.com |
Karangtaruna di Kabupaten Purbalingga telah memasuki babak baru. Jika tahun-tahun sebelumnya, berbagai kisah karangtaruna, baik di level kabupaten, kecamatan maupun desa cuma mirip coretan di dinding, maka mulai akhir tahun 2017 ini hasrat untuk menggeliat bisa lebih menyala.
Alasan utamanya, karena Pemerintah Kabupaten Kota Perwira sudah bulat hati mengucurkan duit sampai Rp 300 juta untuk organsasi sosial kepemudaan di tahun 2017. Jumlah ini tentu saja wow, mengingat pada pada tahun 2016 lalu, karangtaruna kabupaten “hanya” digelontor Rp 68 juta.
![]() |
| Setiap jalan menawarkan petualangannya masing-masing. Photo by stockphotos.io |
Walaupun sudah bertahun-tahun hidup di Kota Satria, tapi sepekan terakhir kembali ngegas menuju Purwokerto tetap saja berat. Yang pertama, jelas urusan bangun pagi. Tapi yang utama, soal jarak tempuh yang terasa semakin jauh saja.
Padahal, saya baru berhenti dari aktifitas di kota yang punya kampus Unsoed ini, April 2016 kemarin. Tapi, rasanya sudah lama sekali. Seperti menahun, sampai berlumut.
Sudah berapa lama kita di sini?
Duduk sambil menikmati pandangan
Menyilangkan kaki lantas menyebar pandangan
Ke kanan, lalu ke kiri, lalu ke atas, lalu ke bawah, ke mana-mana
Sudah berapa lama kita di sini?
Negara kita sudah rusak parah
Aku melirik, kau santai saja selepas melontarkan tuduhan tanpa dasar
Aku menyedot jus, kau menyesap kopi, mana bagian porak porandanya?
Minum kopi atau lebih beken disebut sebagai ngopi merupakan hal yang sudah lekat dengan aktifitas keseharian. Terutama saat-saat siang sampai menjelang sore. Dalam satu hari, saya menghabiskan satu gelas kopi untuk disruput.
Jumlah gelas berisi kopi hitam biasanya akan bertambah menjadi dua gelas dalam satu hari. Ini terjadi kalau saya bertamu ke rumah teman. Karena kekhawatiran akan ketergantungan terhadap ngopi, saya tak berani untuk ngopi lebih dari dua gelas dalam satu hari.
Hari ini, 5 Januari 2015. Selain dilihat sebagai senin pertama di tahun 2015, hari ini adalah hari dimana aktifitas kembali bergulir. Rutinitas kembali akrab dalam keseharian. Hari dimana bekerja adalah keseharian yang dilalui dari pagi sampai sore, bahkan malam.
Sebenarnya, bekerja itu sudah biasa. Ya, bahkan sejak 2010 silam. Tapi, senin ini agak berbeda. Sebab, senin ini adalah awal kerja setelah kantor shut down selama tiga hari. Yakni tepatnya sejak malam taun baru 2015, yang gempita itu.
Baiklah. Tahun 2014 memang segera habis, dalam hitungan hari. Dengan menggunakan sudut pandang optimis, menyambut kedatangan tahun 2015 tentu kudu dilakukan. Kata "menyambut" di sini tentu tidak hanya berbicara soal persiapan Malam Tahun Baru 2015.
Saya belum tahu, apakah penting untuk membahas hal yang mendasar nan esensial dari proses pergantian tahun di sini. Sebab, memang lebih asyik menatap dan menikmati yang hingar bingar (sekalipun sebentar), dibanding berbicara sesuatu yang besar tapi tak jelas.
![]() |
| Aliandro Syarif diambil dari Twitter |
Padahal, blogging tak hanya sebatas ruang pelampiasan rasa pribadi atau bahkan ruang dokumentasi. Ada banyak hal yang bisa dieksplor dari blog. Pemahaman ini saya dapatkan dari interaksi yang kian banyak dengan teman-teman yang suka bergelut teknologi informasi, setahun terakhir.
![]() |
| Sandal jepit bersumber dari google.com |
Semenjak beberapa pekan terakhir, hujan semakin sering mengguyur. Bisa dipastikan, setiap sore hujan akan mengguyur bumi tempat saya berlalu lalang saban hari, tanpa pandang bulu. Mau bangunan bagus atau jalan berlubang, semua diguyur dengan merata.



















